Friday, April 3, 2009

BENARKAH OLAHRAGA MEMBANGUN KARAKTER

Oleh :

Akhmad Sobarna

Abstrak

Partisipasi dalam olahraga selalu menjadi bagian penting di lingkungan kita. Orang-orang mengiukuti kegiatan olahraga dengan alasan kesehatan dan kebugaran, namun ada pula dengan maksud untuk membangun karakter dan sosialisasi.

Benarkah olahraga membangun karakter, ini masih menjadi perdebatan. Dalam makalah ini ditambahkan bahasan mengenai karakter apa dan apa saja yang terkait dalam olahraga untuk membangun olahraga, serta adanya review tentang beberapa literature dan penelitian mengenai olahraga yang membangun karakter.

Olahraga adalah fenomena sosial yang tersebar sangat luarbiasa. (Eitzen & Sage, 2003:1)

Olaraga menjadi bagian penting secara sosial dan budaya tidak hanya di Amerika melainkan juga di seluruh dunia. Olahraga dilakukan oleh seluruh tingkatan usia mulai usia yang sangat muda sampai usia yang sangat tua, dengan tujuan dari sekedar kesenangan, rekreasi sampai untuk tujuan professional. Olahraga dapat dilaksanakan dengan jumlah yang besar dari berbagai usia di sekolah, klub, perusahaan dan pusat-pusat masyarakat. Kecuali untuk anak-anak olahraga tidak terpaku pada rekreasi atau olahraga yang terorganisir. Di kampus dan perguruan tinggi, mahasiswa melakukan olahraga di dalam gedung, klub dan berbagai pertandingan antar kampus. Michener (1976) menyatakan: “Orang muda membutuhkan pengalaman penerimaan: hal itu bisa diperoleh dari berbagai cara … tetapi di Amerika olahraga merupakan pilihan utama untuk pengalaman tersebut. (hal. 19).

Orang melakukan olahraga dengan berbagai alasan –kesehatan dan kebugaran, manajemen stress, sosialisasi, relaksasi dan lainnya. Salah satu alasan penting lainnya adalah pengembangan karakter. “Olahraga membangun karakter” sering menjadi slogan. Sayangnya, olahrga bukan untuk membangun karakter.

Saat ini masalah utama dan sering menjadi masalah di berbagai level adalah kelaziman perilaku yang tidak pantas dan karakter buruk. Skandal penjiplakan, obat-obatan, kekerasan, arogan dan perbuatan buruk lainnya dalam olahraga selalu menjadi pertentangan norma. Brenda Bredemeier (dalam sebuah percakapan pribadi, Februari 2005) menggambarkan bahwa periaku atlit dalam olahraga berbeda dengan kenyataan hidup sehari-hari –istilahnya moralitas dalam kurung. Moralitas dalam kurung berarti bahwa dalam sebuah even olahraga, segala sesuatunya bisa terjadi. Para atlit akan sering menampilkan prilaku yang pro-sosial dalam sebuah pertandingan olahraga (cara yang mereka pikir harus mereka lakukan). Beberapa penelitian (Brendemeier & Shields, 1985; Eitzen & Sage, 2003) memunculkan bahwa perilaku dalam olahraga berbeda dan terpisah dengan kenyataan hidup sehari-hari.

Sementara suatu klaim menyatakan bahwa karena olahraga dan bermain terpisah dari kenyataan hidup, ketidakberhubungan ini membenarkan adanya perilaku yang tidak pantas, yang lainnya mengatakan bahwa olahraga menandakan kehidupan sebenarnya (Coakley, 2001). Olahraga, seperti bisnis, pendidikan, sosialisasi dan perang, semuanya adalah bagian dari kenyataan hidup. Asal mula yang berbeda tersebut merupakan bagian kenyataan hidup yang sungguh nyata. Kajian filosofis atau teori-teori yang memisahkan olahraga dari kehidupan nyata memberi dorongan bagi pelaku olahraga dan memberikannya perilaku yang dibenci dan tidak pantas di masyarakat. Moralitas dalam kurung tidak bisa dan tidak harus menjadi cek kosong (blank check) terhadap perilaku dalam olahraga. Sama halnya dengan perang dimana ada aturan peperangan (sesuai dengan Konvensi Geneva) dan standar perilaku, dalam kehidupan olahraga pun terdapat “benar” dan “salah”. Dalam kajian yang berbeda, meski diperoleh keuntungan dari kajian akademik dan filosofis, sebenarnya hal itu menyebabkan permasalahan perilaku buruk dalam olahraga.

Dapatkah bawaan karakter positif dikembangkan melalui pengalaman olahraga? Sesungguhnya hal itu tidak akan terjadi dengan sengaja atau direncanakan. Ini hanya dapat dan akan terjadi ketika pelatih, guru dan pengurus olahraga membuat sebuah keputusan sadar untuk membuat pengembangan karakter sebagai hasil dari pengalaman olahraga. Bagaimana hal itu dapat ditetapkan, ini akan menjadi topik di kemudian hari.

Makalah ini juga membahas tentang apakah olahraga dapat membangun karakter dengan menentukan karakter, mengamati pelaksanaan olahraga dan mereview beberapa rujukan tentang karakter dalam olahraga.

Definisi Karakter

Kejuaraan Dunia adalah sebuah keserasian ketika Briana Scurry, seorang penjaga gawang Amerika, berteriak keras di bawah mistar gawang pada 10 Juli di Rose Bowl. Dengan teriakannya, penjaga gawang Amerika tersebut telah menggagalkan musuhnya, pemian Cina ketiga dalam tendangan pinalti, sehingga menentukan kemenangan Women’s World Cup…. hal itu merupakan satu pilihan untuk melemahkan lawan. Inilah upaya lain yang dilakukan Scurry untuk menggagalkan taktik lawan.

Dengan pengakuannya, Scurry memutuskan untuk meningkatkan peluangnya dengan mengabaikan aturan tendangan pinalti. Dengan gerakan yang cepat dan praktis, Scurry menggerakan dua kakinya ke depan –dengan melanggar aturan- dan mematahkan engkel Liu Ying, lawannya. Dengan reflek yang sangat indah, Scurry menjatuhkan diri ke arah sebelah kiri sehingga tendangan Liu melebar ke luar gawang. Itulah satu gerakan singkat yang memberikan kemenangan pada kesebelasan Amerika…. Posisi Scurry seperti itu membuatnya bicara di Los Angles Times: “Semua orang bisa melakukan hal itu. Ini hanyalah sebuah tipuan bila anda dalam keadaan tertekan.”

(Vescey, 1999: 13).

Kepentingan dan kenyataan karakter merupakan hal yang beralasan. Meskipun hal ini tidak ada dasar empiris, namun telah berkembang di masyarakat sehingga tidak bisa terbantahkan. Karakter seseorang, berhubungan dengan kepribadian, menampilkan siapa pelakunya dan bagaimana mereka melakukannya (Brody & Siegel, 1992). Siapa pelaku dan bagaimana melakukannya merupakan hal penting karena kehidupan manusia sehari-hari melibatkan interaksi dengan orang lain. Konsekuensinya, dalam semua aspek sosial –politik, bisinis, pendidikan, pergaulan, agama dan entertainment- karakter seseorang (sekaligus dengan kepribadiannya) berperan dalam mempengaruhi kualitas dan kenyataan interaksi manusia. Karakter seseorang jelas sangat penting karena dia berhubungan dengan kehidupan orang lain.

Sementara karakter sering diangkat, dikaji, dan dipelajari, namun kenapa orang menyetujui karakter tersebut sangat jarang dikaji. Orang bisa saja menyetujui bahwa karakter itu penting. Namun, mereka akan segera tidak menyetujui tentang apa arti karakter. Jadi, Apa itu karakter?

Berbagai definisi tentang karakter datang dari berbagai sumber –tak satupun yang dianggap salah. Kalangan filosof telah memilki kecenderungan untuk mendefinisikan karakter dari perspektif esoteric (hanya orang tertentu yang memahami) dan telah menganggapnya nyata dalam kehidupan dengan perilaku dan perbuatan seseorang. Contoh,

Cara yang paling singkat dan meyakinkan untuk hidup mulia di muka bumi adalah menjadi nyata apa yang akan kita tampilkan. Setiap kebijakan manusia meningkatkan dan memperkuat dirinya dengan perbuatan dan pengalamannya.

(Socrates)

Apa yang sedang kamu lakukan menyuarakan bahwa aku tidak bisa mendengar apa yang sedang kamu bicarakan. (Ralph Waldo Emerson)

Kalangan sarjana sering mengambil perspektif lebih teoritis dalam mendefinsikan karakter. Salah satunya yang didefinisikan Bredemeier & Shields (1995), yaitu karakter adalah keadaan internal yang dimanifestasikan dalam perilaku. Keadaan internal tersebut memandu keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang menentukan kualitas diri seseorang (Marrella, 2001) Bredemeier & Shields (1995) mengindikasikan karakter sebagai dimensi terdalam dari seseorang yang proses tindakan moralnya menjadi perilaku. Brody & Siegel (1992) mendefinsikan karakter dengan istilah keseluruhan kulaitas moral seseorang. Marrella (2001) mempercayai seseorang dengan karakternya berarti manandakan kebenaran, memutuskan apa yang benar, dan memiliki dorongan dan komitmen untuk bertindak secara mendasar.

Menurut beberapa ahli, cara yang efektif dan umum untuk membahas karakter, adalah dengan mengetahui apa itu, dari mana berasal atau dengan pendekatan bawaan (Bredemeier & Shields, 1995).

Orang dengan karakter moral yang baik datang untuk memiliki tingkat kebajikan yang luas dan rela ditempatkan untuk melakukan keinginannya baik untuk jangka panjang maupun untuk jangka pendek (Arnold, 2001). Contoh, seseorang dengan karakternya menampilkan bawaan respek, integritas, jujur, bertanggungjawab, berani, adil, kasih sayang dan memihak. Bredemeier dan Shields (1995) menggambarkan karakter olahraga dengan empat kebijakan: kasih sayang, adil, sportif, dan integrative, serta percaya bahwa kepemilikan terhadap sifat-sifat atau kebijakan tersebut memfasilitasi penampilan konsisten tindakan moral dalam olahraga (Bredemeier & Shields, 1995).

Dalam dunia olahraga, banyak pelatih yang berhasil telah mengajarkan kepribadian dan kebajikan karakter dalam olahraga dengan waktu yang sangat lama. Pelatih basket legendary di UCLA, John Wooden (Wooden & Jamison, 1997), menyatakan tentang pentingnya karakter dan karakter apa yang harus dilakukan seorang atlit dengan menyatakan “kemampuan akan mangantarkan kamu ke puncak dan menguasai karakter akan menjaga kemampuan itu” (h. 199) Dia juga mengatakan, “Harus lebih memperhatikan karakter daripada reputasimu, karena reputasi kamu adalah apa yang orang pikirkan tentang kamu, sementara karakter adalah kamu yang sesungguhnya” (h. 199). Mike Krzyzewski (2001) percaya bahwa karakter seseorang terefleksi dalam cara dia melakukan kembali pada situasi yang sulit dan menguji. Dean Smith, John Thompson, dan Joe Paterno adalah pelatih sukses lainnya pada tingkat perguruan tinggi, menekankan perkembangan karakter dalam programnya.

Dalam dunia militer, karakter didefinisikan sebagai cara seseorang bertindak saat tidak ada orang yang melihatnya. Praktisnya, ini mengartikan apa yang dilakukan orang tersebut –bagaimana dia bertindak. Tentara Amerika menggunakan 7 standar untuk mengukur bawaan –dengan mendefinisikan karakter seseorang pada: loyalitas, tugas, respek, servis toleran, kejujuran, integritas dan keberanian.

Untuk mendefinisikan karakter lebih akurat, akan membantu memecahkannya dari sudut pandang psikologis seperti yang akan digambarkan pada bagan berikut. Pandangan penulis adalah bahwa karakter seseorang muncul dalam sebuah setting olahraga dengan menampilkan respek dan integritas (bukanlah karakter bila perilakunya tidak respek dan integritas).

Gambar 1. Model Konstruksi Karakter

Karakter (Konstruksi)

Respek (bawaan tersembunyi) Integritas (bawaan tersembunyi)

Definisi Bawaan Tersembunyi

Kami tidak begitu respek pada mereka (Tim USA) ini, namun anda boleh respek

(Vladislav Tretiak, seorang goaltender pada tim Hokey es USSR tahun 1980, berkomentar setelah kalah tim USA pada olimpiade musim dingin tahun 1980, The Miracle On Ice”. Kalah dari Tim USA dianggap merupakan kesedihan dalam sejarah olahraga dan secara parsial Tim USSR tidak menghormati Tim USA atau ingin memberikan kemenangan dalam kesempatan lain).

Respek adalah bagaimana anda menjalin dan memperhatikan orang lain. Respek merupakan kata kerja; ini adalah sesuatu yang anda lakukan atau yang anda abaikan. Respek adalah “untuk merasa atau menunjukkan perhatian istimewa terhadap orang lain” (American Heritage Dictionay, 1982:1.052). Respek adalah pehatian untuk kemulyaan dan keluhuran fundamental bagi semua manusia (Merrella, 2002). Banyak orang menganggap kata respek sebagai “The Golden Rule” (Aturan Emas). Respek bukanlah sesuatu yang dapat ditiru namun menjadi sesuatu yang harus diwujudkan …. seorang manusia mempunyai sebuah disposisi untuk bertindak dengan respek, itu hanyalah perbuatan seseorang untuk respek sehingga kualitas muncul… respek terjaga dengan perilaku respektif terhadap orang lain” (Lawrence-Lightfoot, 2000:10).

Definisi di atas termasuk respek untuk teman satu tim, lawan, fans, pelati, dan wasit. Contoh sikap repektif adalah berjabat tangan, membantu teman satu tim atau lawan dan mau mendengarkan. Perilaku yang menunjukkan kurang respek seperti mencela, menggerutu, menyoraki pelatih atau wasit, meniru gerakan, atau mempengaruhi skor lawan.

Fraleigh (1994), McNamme, dan Parry (1998) serta Shea (1996) berpendapat bahwa respek dalam olahraga sungguh berarti cara atau bagaimana seorang atlit mendekati lawannya baik di dalam pertandingan maupun di luar. Kurang respek akan menjadi “perlakuan buruk dari seorang lawan seperti tidak menghargai kemengan lawan …. rasa keberatan terhadap lawan” (Fraleigh, 1994:86). Seorang partisipan penelitian berkata, “Aku begitu busuk sehingga mendapatkan perlakuan yang tidak respek dari seorang laki-laki (Fraleigh, 1994:85).

Integritas menunjukkan perbuatan yang benar dan sejati di muka bumi. Integritas merupakan ketaan yang tulus terhadap moral dan aturan etika (American Heritage Dictionary, 1982:667). Jika seseorang melakukan atau mengatakn sesuatu yang benar, dia bertindak dengan intergitas. Definisi integritas ini juga termasuk tidak sekedar untuk tidak berbohong, menjiplak atau mencuri. Integritas berbekas dengan “sense of duty’ (rasa bertanggungjawab terhadap kerja) atau melakukan sesuatu yang dianggap bekerja oleh orang lain dengan tanggung jawab. Dalam dunia olahraga definisi integritas ini termasuk latihan tepat waktu, selalu bersiap-siap untuk setiap pertandingan, mematuhi instruksi pelatih dan memberikan upaya terbaik dalam latihan dan pertandingan.

Delettre (1971) secara kuat dan singkat mengalamtkan integritas dalam sebuah setting olahraga dengan cara berikut: Bertanding, menang dan kalah, dalam atletik mudah dipahami hanya dalam framework aturan yang membatasi kompetisi olahraga tertentu. Seorang boleh berlomba atau menipu (berbuat curang) dalam pertandingan tetapi tidak mungkin bagi seseorang untuk melakukan keduanya dalam sebuah pertandingan. Menipu yaitu menghentikan pertandingan. Dengan alasan ini menunjukkan bahwa pelaku kecurangan merupakan kegagalan yang paling besar dalam semua pertandingan atletik karena gagal satu berarti gagal semua. (h. 136)

Meskipun selalu akan ada perdebatan sehat seperti kebaijkan yang membuat seseorang dengan karakternya, beberapa sifat muncul dengan universal. Pada sebuah Forum Negara-negara Dunia tahun 1996 di Institute of Global Ethics, melibatkan lebih dari 250 partisipan, utusan 40 negara dan lebih dari 50 agama, sebuah survey menemukan bahwa kebenaran, kasih sayang, tanggung jawab, kebebasan dan persembahan dalam hidup dianggap sebagai nilai-nilai yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari (Merrella, 2001:11). Dengan catatan, dari perspektif praktis, bisnis dunia (ekonomi, travel, pemerintahan, pendidikan, hubungan luar negeri dan lain-lain) tidak bisa berfungsi secara proporsional jika beberapa sifat universal seperti tanggung jawab dan kebenaran tidak eksis. Dalam konteks olahraga, sebuah kontes pertandingan tidak bisa dimainkan jika tidak ada harapan fundamental (tanggung jawab) sehingga partisipan dapat akan mengikuti aturan dan ketentuan yang mengatur olahraga.

Seseorang dengan karakter menampilkan perilaku yang menunjukkan respek dan integritas (atau kurang berkarakter jika perilaku tidak respektif atau kurang integrated. Definisi karakter di atas semuanya membicarakan tentang tindakan atau perilaku –karakter seseorang diturunkan melalui perilakunya. Posisi teoritis ini dikonsentrasikan dengan pernyataan tentang kepercayaan atau sebuah sikap, yang tidak sama dengan tindakan. Seseorang mungkin memikirkan satu cara namun menggunakan cara lain dalam tindakan. Skinner (1971) melaporkan bahwa manusia bertingkah laku dalam cara-cara tertentu saja karena mereka memiliki filsafat, sehingga perilaku tercampur dengan nilai-nilai filsafatnya.

Perilaku moral sering merupakan hasil atau akibta dari moral. Hubungan antara perilaku dan akibatnya menjad topic penelitian di perguruan tinggi. Thoma (1994) menyatakan bahwa ada hubungan yang nyata antara akibat moral dengan perilaku moral. Rest (1979, 1986) tidak percaya bahwa keputusan moral dan moralitas perlu dihubungkan dengan karakter atau perilaku. Dia percaya bahwa perilaku ditentukan oleh sejumlah faktor yang kompleks dan bahwa akibat moral dengan keputusannya hanya memainkan perna kecil dalam penjelasan tentang perilaku moral. Lickona (1991) berpendapat bahwa karakter yang baik adalah hasil dari perasaan dan proses kognitif. Tentunya ada komponen akibat moral para perilaku moral.

Hanya saja dalam olahraga, perilaku pemain sering instingtif dan instant. Olahraga sangat emosional, stress fisik, berubah-rubah dan melibatkan situasi yang tidak menentu dan sring agresif. Waktu untuk akibat moral dan proses kognitif sering tidak eksis dalam olahraga. Atlit sering hanya bertindak dan dengan alasan yang berubah-rubah dengan berbagai perilaku. Tetapi ketiak mereka melakukan tindakan, perilaku mereka merefleksikan siapa mereka.

Penulis setuju dengan keyakinan Skinner (1971) bahwa seseorang bertanggung jawab pada perilakunya karena ada konsekuensi dari perilaku baik dan buruk. Setiap orang dapat dan harus mengontrol dirinya untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai yang dibangun. Terdapat tingkatan yang significant mengenai tanggung jawab seseorang terhadap karakternya, yang muncul dalam perilaku. Jika perilaku seseorang tidak merefleksikan karakternya sehingga orang tersebut tidak dalam keadaan benar terhadap nilai-nilainya dan kurang karakter. Sikap dan kepercayaan seseorang penting tetapi tindakan jauh lebih penting. Perilaku seseorang adalah pilihannya. Dia tidak dapat dan tidak harus mengubah tanggung jawab di tempat lain.

Perkembangan Karakter dan Partisipasi dalam Olahraga

Dengan popularitas olahraga di dunia yang luar biasa, perkembangan karakter menjadi bagian pengalaman olahraga –pada level remaja, kuliah, dan professional. Menurut teori Peagetian, sebuah keuntungan aktifitas fisik adalah bahwa proses dan struktur psikologis seseorang akan tumbuh (Bredemeier & Shields, 1995). Olahraga adalah refleksi dari kecenderungan nilai yang ada di masyarakat. Olahraga adalah sebuah lingkungan yang menyimbolkan nilai-nilai budaya dan menjadi media dimana orang muda dapat belajar tentang pengalaman banyak nilai-nilai inti dari negera kita (Bredemeier &Sjields, 1995). Pengalaman-pengalaman ini merupakan bagian utama dalam perkembangan karakter.

Olahraga tidak membangun karakter. Karakter dapat diajarkan dan dipelajari dalam setting olahraga. Pengalaman olahraga dapat membangun karakter, kecuali jika lingkungannya dibentuk, dinyatakan, dan direncanakan untuk mencapai tujuan mengembangkan karakter. Jenis lingkungan ini harus memasukkan semua orang seperti pelatih, official, orang tua, pemain dan lain-lain yang menjadi pelaku dalam setting olahraga tersebut. Coakley (2001) telah merekomendasikan sebuah setting olahraga yang menempatkan pemain mendapatkan penghargaan lebih dari cara mereka bermain, sportsmanship, melebihi penghargaan dari kemenangan dan kekalahan yang mereka alami. Hellison (2003), Parker dan Stiehle (2004) sungguh percaya bahwa karakter positif dapat dan harus diajarkan dan dipelajari dalam setting aktifitas olahraga. Program olahraga pada semua level dapat dirancan g secara khusus untuk mengembangkan baik gayahidup aktif maupun karakter positif (Alberts, 2003). Tujuan dari setting tersebut adalah bahwa perilaku dan nilai-nilai bertanggung jawab dan layak dikembangkan dalam olahraga dan kelas pendidikan fisik akan juga digunakan di luar sekolah, seperti rumah dan alam bebas (Parker & Stiehl, 2004).

Catatan, Bredemeier dan Shileds (1995) mengkhususkan bahwa dengan metode pelatihan dan pengajaran yang tepat serta penekanan pada perkembangan karakter, olahraga dan kegiatan fisik dapat menjadi tempat pemusatan yang tepat untuk perkembangan karakter. Helleison (2003) mendukung pendapat ini dan menjalankan program olahraga setelah sekolah di Cicago bagi kalangan remeja yang beresiko (bermasalah). Program olahraga dalam berbagai level memiliki potensi untuk mengembangkan karakter.

Hanya saja, membangun karakter yang positif tidak inherenty pada partisiasi olahraga (Gerdy, 2000; Hellison, 2003). Para atlit khususnya dalam olahraga tim, cenderung memilki skor rendah dalam uji karakter (Krause & Priest, 1993; Beller & Stoll, 1995); Dunn & Dunn, 1999). George Sage (Personal Communication, May, 2004) percaya bahwa olahraga di Amerika telah mencapai poin “krisis” dan hampir semua pengalaman olahraga atlit merugikan perkembangan karakter mereka. Moyoritas laporan riset bahwa terdapat hubungan negative antara partisipasi dalam olahraga dengan perkembangan karakter (Krause & Priest, 1993; Dunn & Dunn, 1999; Silva, 1983; Beller & Stoll, 1995; Bredemeier & Shields, 1984an; Bredemeier, 1995; Hahm, 1989).

MODEL PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR (SEBUAH INOVASI DALAM PENDIDIKAN JASMANI)

Oleh :

Akhmad Sobarna

Abstrak

Tulisan ini berawal dari kenyataan bahwa pembelajaran pendidikan di sekolah dasar mempunyai banyak kendala-kendala. Pendidikan jasmani masih dianggap mata pelajaran yang kurang penting dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Pendidikan jasmani di sekolah dasar mempunyai alokasi jam pelajaran yang masih kurang. Pembelajaran pendidikan jasmani masih cenderung membosankan dan lebih mengarah pada penguasaan keterampilan. Di sisi lain pembelajaran di sekolah dasar secara umum kurang memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan siswa. Sehingga pembelajaran di sekolah lebih cenderung kurang menyenangkan dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak sehingga diperlukan sebuah pembelajaran dengan pendekatan yang melibatkan semua aspek siswa.

Pembelajaran terpadu merupakan sebuah wacana yang sudah diimplikasikan beberapa tahun ini. Keberadaan pembelajaran terpadu memberikan angin segar pada kerangka berpikir para guru sekolah dasar dalam inovasi pembelajarannya. Pendidikan jasmani sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dasar dapat menggunakan pembelajaran terpadu sebagai jalan mengurangi berbagai kekurangan dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Pembelajaran terpadu pendidikan jasmani dapat berupa perpaduan dua atau lebih materi-materi yang ada dalam pendidikan jasmani, yang direalisasikan dalam suatu pembelajaran. Pembelajaran terpadu pendidikan jasmani dalam pendidikan jasmani dapat juga berupa perpaduan dua atau lebih materi-materi pendidikan jasmani dengan materi-materi mata pelajaran yang lain, seperti: matematika, bahasa indonesia, pendidikan agama, sains, pengetahuan sosial, dan kerajinan tangan dan kesenian. Pembelajaran terpadu didasarkan pada kurikulum berbasis kompetesi tahun 2004, baik dari segi standar kompetensinya, indikatornya, maupun, hasil belajarnya.

Pembelajaran terpadu merupakan inovasi pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi tahun 2004. pembelajaran terpadu melibatkan pengembangan semua aspek siswa sehingga sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu manusia utuh. Pembelajaran terpadu pendidikan jasmani memberikan suatu pemecahan berbagai masalah yang timbul selam ini mengenai pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar.

Kata Kunci : pembelajaran, terpadu, pendidikan jasmani.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah

Dalam pendidikan kita mengenal adanya input, proses, dan output. Input merupakan masukan, dalam pendidikan, input adalah para siswa yang akan diberikan ‘perlakuan’ dalam proses pendidikan berupa proses pembelajaran, sehingga menghasilkan suatu output yang berarti hasil yang dicapai dalam proses pembelajaran yang ada dalam diri siswa tersebut. Proses pembelajaran sangat penting keberadaannya dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang sebenarnya. Proses pembelajaran merupakan suatu hubungan interaksi antara siswa, guru, dan lingkungannya. Hubungan itu hendaknya kreatif, kritis, interaktif yang memberikan arah untuk tumbuh kreatifitas, berpikir kritis, dan percaya diri.

Pendidikan jasmani yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan yang tentu di dalamnya ada proses pembelajaran. Apabila dibandingkan dengan proses pembelajaran mata pelajaran lainnya, proses pembelajaran pendidikan jasmani sangatlah berbeda. Pendidikan jasmani mengajak siswa untuk dapat berkembang sesuai dengan keinginannya, tetapi kenyataan lain dilapangan mengakibatkan pendidikan jasmani menjadi suatu mata pelajaran yang membosankan dan melelahkan serta tidak sesuai dengan konsep dasar pendidikan jasmani itu sendiri. Kenyataan lainnya adalah adanya kesinambungan antara kurikulum yang diajarakan dengan kehidupan nyata anak sehari-hari seperti diungkap oleh Siswoyo menyatakan bahwa pembelajaran di sekolah dasar (SD) yang dirumuskan para ahli kurikulum cenderung eksklusif, sempit, dan terlalu akademis dan terkesan semua peserta didik hendak diarahkan jadi ilmuwan (Suara Merdeka, Kamis, 06 Mei 2004).

Mata pelajaran pendidikan jasmani yang mempunyai alokasi waktu 2 jam pelajaran per minggu, dimana satu jam pelajaran berkisar antar 30 – 40 menit. Alokasi waktu tersebut sangat jelas akan mempengaruhi tujuan dari pendidikan jasmani, sehingga proses pembelajaran tidak dapat mencapai tujuan pendidikan jasmani yang sebenarnya dan tidak dapat memberikan kontribusi maksimal bagi perkembangan anak. Seperti yang diungkap oleh Wiryawan (Pikiran Rakyat, 11 April 2003), bahwa penelitian di Amerika belum lama ini menunjukkan, pembelajaran yang menerapkan kurikulum dengan mata pelajaran terpisah-pisah menjadikan pembelajar kurang berhasil menumbuhkan potensi diri secara maksimal. Kurikulum dengan mata pelajaran terpisah-pisah dalam waktu 50 menit per jam pertemuan menjadi tidak realistik.

Para pembelajar kurang mendapat kesempatan mempelajari sesuatu secara mendalam Sekolah-sekolah cenderung memberikan alokasi wkatu yang sangat banyak pada mata pelajaran-mata pelajaran tertentu. Pada Sekolah Dasar, hal ini sangat bertolakbelakang dengan perkembangan anak. Kurangnya waktu bagi anak sekolah dasar untuk memenuhi hasrat bergeraknya mengakibatkan permasalahan dalam proses pembelajaran mata pelajaran, ketika anak berkeinginan untuk bergerak di dalam kelas yang sedang berlangsung proses pembelajaran, maka anak tidak dapat menahan hasrat bergerak itu yang mengakibatkan proses pembelajaran menjadi “kacau”.

Hal ini merupakan suatu kenyataan yang menjadi tantangan bagi para guru sekolah dasar untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi anak seusia sekolah dasar. Guru pendidikan jasmani sekolah dasar harus mengetahui dan mengerti karekteristik pertumbuhan dan perkembangan anak sekolah dasar itu sendiri, kemudian mengerti dan mengetahui strategi pembelajaran yang tepat bagi anak seusia itu. Hal tersebut merupakan nilai tambah, sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar.

Melalui program pendidikan jasmani yang teratur, terencana, dan terbimbing diharapkan dapat tercapai seperangkat tujuan yang meliputi pertumbuhan dan perkembangan aspek jasmani, intelektual, emosional, sosial, dan moral spiritual yang optimal. Mengacu pada pentingnya pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut, maka perlu adanya suatu model pembelajaran pendidikan jasmani yang dipadukan dengan mata pelajaran yang lain. Model pembelajaran tersebut merupakan salah satu inovasi yang dapat memberikan wahana bagi anak dalam beraktifitas yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Model pembelajaran ini juga diharapkan dapat memberikan suatu pola pemikiran kreatif dan inovatif bagi guru dalam meramu proses pembelajaran agar anak merasa senang dan tidak merasa terbebani dengan meteri pelajaran yang ada dalam kurikulum.

PEMBELAJARAN TERPADU

1. Pengertian Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran dengan pendekatan terpadu, khususnya di negara lain sudah lama dikenal, sebagaimana yang dikemukan oleh Saud (1997:2-3) bahwa pendekatan terpadu pada dasarnya bukanlah suatu gagasan baru dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan TK dan SD. John Dewey, Seorang Pakar Pendidikan Modern Amerika telah melontarkan ide perlunya pelaksanaan pendekatan pembelajaran terpadu dalam proses pendidikan dan pembelajaran anak sejak awal abab ke-20. Namun demikian pendekatan pembelajaran terpadu baru mendapat perhatian pada tahun 1970-an, sebagai alternatif pembelajaran anak yang efektif, setelah berbagai penelitian memberikan bukti-bukti bahwa pendekatan pembelajaran tradisional telah gagal mengembangkan anak secara optimal. Hopkin dalam Rusli lutan (1994:26), lebih lanjut menjelaskan bahwa ada aspek-aspek dari keterpaduan dalam pendidikan, yakni: aspek psikologi, sosiologi, dan pedagogi, sedangkan pengertian terpadu merupakan suatu proses yang memandang sesuatu secara keseluruhan atau sebagai satu unit.

Pembelajaran terpadu itu sendiri merupakan suatu model pembelajaran yang membawa pada kondisi pembelajaran yang relevan dan bermakna untuk anak. Pembalajaran terpadu merupakan media pembelajaran yang secara efektif membantu anak untuk belajar secara terpadu dalam mencari hubungan-hubungan dan keterkaitan antara apa yang telah mereka ketahui dengan hal-hal baru atau informasi baru yang mereka temukan dalam proses belajarnya sehari-hari. Collins dan Dixon (1991:6) menyatakan tentang pembelajaran terpadu sebagai berikut: integrated learning occurs when an authentic event or exploration of a topic in the driving force in the curriculum. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam pelaksanaannya anak dapat diajak berpartisipasi aktif dalam mengeksplorasi topik atau kejadian, siswa belajar proses dan isi (materi) lebih dari satu bidang studi pada waktu yang sama.

Pembelajaran terpadu sangat memperhatikan kebutuhan anak sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistik, bermakna, dan otentik sehingga siswa dapat menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Bredekamp (1992:7) menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran orang dewasa hendaknya menyediakan berbagai aktivitas dan bahan-bahan yang kaya serta menawarkan pilihan bagi siswa sehingga siswa dapat memilihnya untuk kegiatan kelompok kecil maupun mandiri dan memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinisiatif sendiri, melakukan keterampilan atas prakarsa sendiri sebagai aktivitas yang dipilihnya. Pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan peristiwa yang otentik.

Wiryawan (Pikiran Rakyat, 11 April 2003) mengemukakan bahwa Keterpaduan dalam konsep pembelajaran terpadu tidak sekadar memadukan isi beberapa mata pelajaran, tetapi lebih luas lagi yaitu memadukan berbagai jenis keterampilan, sikap, atau kemampuan-kemampuan lain sehingga pembelajaran lebih bermakna. Sejalan dengan itu Wilson dkk., (1991:2), menyatakan bahwa keterpaduan dapat dilakukan melalui keterpaduan kurikulum di mana guru merencanakan suatu pembelajaran mata pelajaran untuk murid-muridnya dalam waktu bersamaan mereka juga belajar sesuatu yang lain seperti IPA, IPS, dan Matematika. Dijelaskan pula bahwa pembelajaran terpadu dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan pemahaman anak tentang fisik mereka dan lingkungan sosial mereka yang dapat mengambil bagian di mana anak-anak belajar bersama dan belajar bahasa. Jadi dalam hal ini beberapa anak mempunyai fokus berbicara dan belajar bersama, serta mengembangkan kemampuan pemahaman masing-masing. Mereka belajar dalam kelompok-kelompok. Dalam kelompok mereka bebas mengeluarkan argumentasinya. Artinya bahwa, Pembelajaran terpadu itu adalah upaya guru memadukan berbagai hal yang berhubungan dengan pembelajaran suatu mata pelajaran dan diramu menjadi satu kesatuan pelaksananan pembelajaran yang disesuaikan dengan kenyataan hidup anak. Ibarat rempah-rempah yang satu sama lain mempunyai khasiat yang hampir sama diramu menjadi jamu tolak angin.

Secara singkat dapat dismpulkan bahwa pada hakikatnya pembelajaran terpadu adalah upaya memadukan berbagai materi belajar yang berkaitan, baik dalam satu displin ilmu maupun antar disiplin ilmu dengan kehidupan dan kebutuhan nyata para siswa, sehingga proses belajar anak menjadi sesuatu yang bermakna dan menyenangkan anak. Pembelajaran terpadu mengacu kepada dua hal pokok, yaitu : 1) keterkaitan materi belajar antar disiplin ilmu relevan dengan diikat/disatukan melalui tema pokok, dan 2) keterhubungan tema pokok tersebut dengan kebutuhan dan kehidupan aktual para siswa. Dengan demikian tingkat keterpaduannya tergantung kepada strategi dalam mengaitkan dan menghubungkan materi belajar dengan pengalama nyara para siswa.

2. Konsep Dasar Pendekatan Pembelajaran Terpadu

Anak secara alamiah berkembang secara terpadu, maka diperlukan suatu pembelajaran yang terpadu untuk membantu perkembangan anak secara benar. Aspek intelektual, sosio-emosional, dan fisik anak harus dikembangkan pada waktu bersamaan. Pendekatan pembelajaran terpadu merupakan suatu strategi yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensinya secara seimbang, optimal, dan terpadu pula. Pendekatan terpadu pada dasarnya membantu anak untuk mengembangkan dirinya secara utuh, membantu anak untuk menjadi pengembang dan pembangun ilmu pengetahuan melalui pengalaman nyata. Melalui proses pembelajaran terpadu anak dilatih untuk bekerja sama, berekreasi, dan berkolaborasi dengan teman sejawatnya ataupun guru dalam mengembangkan ilmu maupun memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Pendekatan pembelajaran terpadu mencoba untuk menjadikan pembelajaran relevan dan bermakna, proses belajar mengajar lebih bersifat informal, melalui pendekatan ini aktivitas belajar anak meningkat (Rusli Lutan, 1994 : 27).

Ada dua alasan perlunya penerapan proses pembelajaran memadukan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain, atau satu mata pelajaran dengan bahan ajar tertentu, sehingga menjadi satu menu yang akan disajikan dalam proses pembelajaran (Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas : 2004), yaitu :

a. Alasan Empirik, karena pada hakikatnya pengalaman hidup ini sifatnya kompleks dan terpadu, artinya menyangkut berbagai aspek yang saling terkait. Pergi ke pasar, sebagai misal, merupakan kompleksitas pengalaman hidup yang tidak hanya bersifat sosial (berhubungan dengan orang lain), ekonomi (memenuhi kebutuhan rumah tangga), tetapi juga matematika (terkait dengan hitung-menghitung harga), dan biologi (tekait dengan soal barang dan bahan yang kita beli), dan sebagainya. Dengan demikian, proses pembelajaran di sekolah sebenarnya dapat dilaksanakan dengan meniru model pengalaman hidup dalam masyarakat, karena proses pembelajaran yang demikian lebih sesuai dengan realitas kehidupan kita.

b. Alasan Teoritis Ilmiah, karena keadaan dan permasalahan dalam kehidupan akan terus berkembang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh, ilmu ruang angkasa menjadi lebih terbuka setelah pesawat ulang-alik dapat mendarat di bulan. Komputer kini menjadi mesin informasi yang telah masuk di rumah kita tanpa permisi. Itulah sebabnya, maka bahan ajar di sekolah sudah pasti harus diperkaya dengan muatan-muatan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru. Mengingat banyaknya permasalahan yang timbul dalam kehidupan, banyak materi baru yang diusulkan oleh masyarakat untuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah, misalnya lingkungan hidup, ilmu kelautan, pengetahuan tentang narkoba, masalah HIV dan AIDS, pendidikan moral dan budi pekerti, keimanan dan ketaqwaan, reproduksi sehat dan pendidikan seks, bursa efek, dan masih banyak lagi. Untuk memasukkan hal-hal tersebut menjadi mata pelajaran tersendiri, sudah barang tentu tidak mungkin dimasukkan ke dalam kurikulum sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri. Dengan kata lain, muatan ilmu pengetahuan dan informasi yang semakin bertambah itu tidak mungkin dapat dimasukkan ke dalam kurikulum menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, diperlukan satu organisasi kurikulum yang isinya lebih merupakan pilihan bahan ajar yang secara khusus dipersiapkan sebagai menu untuk proses pembelajaran. Dari sinilah muncul fusi mata pelajaran yang melahirkan kurikulum terpadu (integrated curriculum), dan kemudian melahirkan kurikulum inti (core curriculum).

Para pengembang kurikulum berfikir harus back to basic dalam proses pengembangan kurikulum. Dalam pelaksanaan kurikulum, timbullah model pembelajaran terpadu, dengan tujuan agar proses pembelajaran dapat mengakomodasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta permasalahan yang begitu kompleks dalam masyarakat. Hal senada diungkapkan Wiryawan, bahwa alasan memadukan pembelajaran adalah sebagian besar masalah dan pengalaman dalam kehidupan pada dasarnya interdisipliner dan perlu menggunakan keterampilan secara beragam. Melalui pembelajaran terpadu, para siswa bisa belajar dari pengalaman untuk memecahkan masalah sehari-hari, baik secara sederhana maupun kompleks. Lebih lanjut Wiryawan (Pikiran Rakyat, 11 April 2003), pembelajaran terpadu yang bermakna dapat menjadikan siswa sebagai pebelajar mema­hami konsep-konsep yang dipelajari melalui pengalaman langsung dan menghubung-hubungkannya dengan konsep lain. Pembelajaran terpadu bukan hanya memadukan ilmu matematika dengan ilmu pengetahuan alam ke dalam suatu bidang, tetapi juga melibatkan ilmu bahasa, sastra, ilmu-ilmu sosial, dan seni dalam proses belajar.

3. Model-model Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran terpadu mempunyai beberapa model seperti yang diungkap oleh Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas model-model pembelajaran terpadu terdri atas :

a. Model pembelajaran terpadu antara dua mata pelajaran dalam struktur kurikulum yang berlaku. Misalnya antara mata pelajaran Matematika dan mata pelajaran Bahasa Indonesia, atau mata pelajaran Matematika dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, dsb.

b. Model pembelajaran terpadu antara satu mata pelajaran tertentu dengan bahan ajar yang tidak berdiri sendiri sebagai mata pelajaran, misalnya antara mata pelajaran Pendidikan Agama dengan bahan ajar pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup, antara mata pelajaran Biologi dengan pendidikan reproduksi sehat dan HIV/AIDS, antara mata pelajaran PPKn dengan bahan ajar pendidikan budi pekerti, mata pelajran Bahasa Indonesia dengan bahan ajar keimanan dan ketaqwaan, dsb.

c. Model pembelajaran terpadu beberapa mata pelajaran, lebih dari dua mata pelajaran, misalnya mata pelajaran Matematika, Sains, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kerajinan Tangan dan Kesenian yang dimasukkan ke dalam satu proyek kegiatan pembelajaran (metode proyek).

Forgarty (1991:4-5) menyatakan ada 10 model yang berhubungan dengan keterpaduan, model-model itu adalah sebagai berikut:

a. Model Fragmented

Model ini adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara terpisah yaitu hanya terfokus pada satu disiplin mata pelajaran, misalnya, mata pelajaran Matematika, IPA, IPS, Bahasa, dan sebagainya yang diajarkan secara terpisah.

b. Model Terhubung (connected)

Model keterhubungan adalah model pembelajaran terpadu yang secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan satu topik dengan topik yang lain dalam satu bidang studi, misalnya, menghubungkan konsep dengan kosep menulis dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

c. Model Nested

Pembelajaran terpadu model nested adalah suatu model pembelajaran terpadu yang kaya dengan rancangan oleh kemampuan guru.

d. Model Sequenced

Sequenced adalah model pembelajaran terpadu di mana pada saat guru mengajarkan suatu mata pelajaran maka ia dapat menyusun kembali urutan topik suatu mata pelajaran dan dimasukkannya topik mata pelajaran lain ke dalam urutan pengajarannya itu, tentu saja dalam topik yang sama atau relevan. Pada intinya satu mata pelajaran membawa serta pelajaran lain dan sebaliknya.

e. Model Shared

Shared adalah suatu model pembelajaran terpadu di mana pengembangan disiplin ilmu yang memayungi kurikulum silang, contohnya, Matemaika dan IPA disejajarkan sebagai ilmu pengetahuan. Kesusastraan dan Sejarah digabung pada label kemanusiaan, seni, musik, menari dan drama di bawah payung kesenian yang pokok, teknologi komputer dan industri rumah tangga sebagai kesenian yang perlu dipraktikan.

f. Model Webed

Webed adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema tertentu misalnya, transportasi. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru dengan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesama guru. Setelah tema disepakati, kemudian dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan kaitan dengan bidang-bidang studi lainnya. Dari sub-sub tema ini dikembangkan aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa.

g. Model Threaded

Threaded adalah suatu model pendekatan seperti melihat melalui teropong di mana titik pandang (focus) dapat mulai dari jarak terdekat dengan mata sampai titik terjauh dari mata.

h. Model Integrated

Integrated adalah model pembelajaran yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep, prinsip, dan sikap saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi.

i. Model Immersed

Model ini dimaksudkan dengan menyaring dari seluruh isi kurikulum dengan menggunakan suatu cara pandang tertentu. Misalnya, seseorang memadukan semua data dari berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran) kemudian menampilkannya melalui sesuatu yang diminatinya dalam suatu ide.

j. Model Networked

Networked adalah model pembelajaran terpadu yang berhubungan dari sumber luar sebagai masukan dan semuanya meningkatkan yang baru dan meluaskan ide-ide atau mengembangkan ide-ide. Misalnya, seorang arsitek mengadaptasi teknologi untuk mendesain network dengan teknik program dan meluaskan pengetahuan dasar seperti dia telah mengerjakan secara tradisional dengan pendisain bagian dalam ruangan.

Berdasarkan pendapat tersebut diatas dapat diambil suatu simpulan bahwa pembelajaran terpadu mempunyai model-model tertentu yang berhubungan dengan proses pembelajaran di sekolah. Pembelajaran terpadu merupakan perpaduan dua atau lebih materi-materi yang relevan pada suatu mata pelajaran yang ada di sekolah, yang diramu dalam satu skenario pembelajaran, contohnya dalam mata pelajaran pendidikan jasmani ada penggabungan materi gerak dasar lokomotor dan gerak dasar nonlokomotor. Pembelajaran terpadu juga merupakan gabungan materi-materi pembelajaran yang ada dalam dua atau lebih mata pelajaran, yang diramu dalam satu pembelajaran pada satu mata pelajaran yang dipadukan, sebagai contoh perpaduan gerak dasar lompat dan loncat pada pendidikan jasmani dipadu dengan belajar berhitung dasar pada pelajaran matematika, yang dilaksanakan pada pembelajaran pendidikan jasmani di lapangan.

Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar

Sekolah dasar merupakan salah satu fase yang dilalui anak untuk memulai belajar berbagai hal. Seperti namanya, lembaga ini memberikan sesuatu pengetahuan yang sangat dasar bagi anak. Salah satu mata pelajaran yang ada dalam kurikulum sekolah dasar adalah pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan, yang menggunakan aktivitas jasmani sebagai media untuk membelajarkan anak dalam usaha mencapai perkembangan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

Gerak merupakan tujuan utama dari proses pembelajaran pendidikan jasmani yang memiliki makna dan pengertian yang dinamis. Pembelajaran yang mampu menggali kreatifitas anak dalam bergerak dapat menjadi membantu pencapaian tujuan pembelajaran. Schmidt (188-346) mengemukakan bahwa belajar gerak pada dasarnya merupakan suatu proses perubahan merespon yang relatif permanen sebagai akibat dari latihan dan pengalaman. Sedangkan keterampilan berkaitan dengan gerak otot atau gerakan tubuh untuk mensukseskan pelaksanaan aktivitas yang diinginkan (Singer, 1982 : 9).

Setiap anak memiliki kemampuan gerak dengan kualitas yang satu sama lain berbeda. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan gerak diantaranya adalah bawaan dan lingkungan (Gallahue, 1988 : 63-71). Perbedaan itulah yang mungkin mendasari adanya kurikulum 2004 atau Kurikulum berbasis kompentensi (KBK). Seiring dengan itu guru pendidikan jasmani dituntut untuk dapat melaksanakan kurikulum itu dengan benar, sehingga perlu adanya suatu model pembelajaran yang memungkinkan terlaksananya kurikulum tersebut.

Dalam Kurikulum 2004 Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar disebutkan bahwa Pendidikan Jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional. Dalam proses pembelajaran Pendidikan Jasmani, guru diharapkan mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan/olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportivitas, jujur, kerjasama, dan lain-lain) dan pembiasaan pola hidup sehat, yang dalam pelaksanaannya bukan melalui pengajaran yang konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik, mental intelektual, emosi dan sosial. Selain itu, aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan didaktik-metodik, sehingga aktivitas yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran.

Sedangkan Tujuan Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar yang tersirat dalam kurikulum 2004 adalah untuk 1) Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai dalam Pendidikan Jasmani, 2) Membangun landasan kepribadian yang kuat, sikap cinta damai, sikap sosial dan toleransi dalam konteks kemajemukan budaya, etnis, dan agama, 3) Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui pelaksanaan tugas-tugas ajar Pendidikan Jamani, 4) Mengembangankan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis melalui aktivitas jasmani, permainan, dan olahraga, 5) Mengembangkan keterampilan gerak dan keterampilan berbagai macam permainan dan olahraga seperti: permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, uji diri/senam, aktivitas ritmik, akuatik (aktivitas air), dan pendidikan luar kelas (outdoor education), 6) Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga, 7) Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain, 8) Mengetahui dan mamahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga sebagai informasi untuk mencapai kesehatan, kebugaran, dan pola hidup sehat, 9) Mampu mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani yang bersifat rekreatif. Tujuan pendidikan jasmani ini harus dapat tercapai melalui proses pembelajaran yang terencana dan teratur.

Selain tujuan tersebut diatas tersirat juga dalam kurikulum 2004 bahwa fungsi pendidikan jasmani meliputi Aspek Organik, Aspek Neuromuskuler, Aspek Perceptual, Aspek Kognitif, Aspek Sosial, Aspek Emosional. Proses pembelajaran pendidikan jasmani selama ini belum dapat berfungsi seperti itu, berbagai pendekatan pemebelajaran pendidikan jasmani selama ini belum mampu merefleksikan fungsi-fungsi pendidikan jasmani. Proses pembelajaran yang teratur dan sistematis perlu dilakukan dalam pendidikaan jasmani agar dapat berfungsi seperti tersebut di atas. Pendidikan jasmani perlu mempunyai suatu pendekatan pembelajaran yang dapat mencakup semua aspek yang ada dalam diri siswa. Pendekatan pembelajaran terpadu bukan lagi hanya sekadar wacana tetapi harus dapat diimplementasikan pada proses pembelajaran pendidikan jasmani terutama di sekolah dasar, karena secara alamiah anak berkembang secara terpadu. Aspek-aspek yang ada harus dikembangkan dalam waktu bersamaan sehingga pendekatan pembelajaran terpadu merupakan suatu strategi yang memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensinya secara seimbang dan terpadu, hal ini tentunya sejalan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004.

Berdasarkan kurikulum 2004, ruang lingkup materi pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah dasar meliputi :

1. Permainan dan olahraga:

Aktivitas permainan dan olahraga berisi tentang kegiatan berbagai jenis olahraga dan permainan baik terstruktur maupun tidak yang dilakukan secara perorangan maupun beregu. Dalam aktivitas ini termasuk juga pengembangan sistem nilai seperti; kerjasama, sportivitas, jujur, berfikir kritis, dan patuh pada peraturan yang berlaku.

2. Aktivitas Pengembangan:

Aktivitas pengembangan berisi tentang kegiatan yang berfungsi untuk membentuk postur tubuh yang ideal dan pengembangan komponen kebugaran jasmani serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti: kekuatan, daya tahan, kelentukan, keseimbangan, dan kelenturan tubuh, bentuk latihan yang dilakukan dalam aktivitas ini misalnya; pull-up, sit-up, back-up, push-up, squat-jump dan lain-lain.

3. Uji diri/senam:

Aktivitas uji diri berisi tentang kegiatan yang berhubungan dengan ketangkasan seperti; senam lantai dan senam alat aktivitas fisik lainnya yang bertujuan untuk melatih keberanian dan kapasitas diri.

4. Aktivitas Ritmik:

Aktivitas ritmik berisi tentang aktivitas yang berhubungan dengan masalah irama. Dalam proses pembelajarannya memfokuskan pada kesesuaian atau keterpaduan antara gerak dan irama.

5. Aktivitas Air (akuatik):

Aktivitas air (akuatik) berisi tentang kegiatan di air, seperti; permainan air, gaya-gaya renang, dan keselamatan di air, serta etika di kolam renang.

6. Pendidikan Luar Kelas (outdoor Education)

Aktivitas Luar Sekolah berisi tentang kegiatan di luar kelas/sekolah dan di alam bebas lainnya, seperti; bermain di lingkungan sekolah, di taman, di perkampungan pertanian/nelayan, berkemah, dan kegiatan yang bersifat kepetualangan (mendaki gunung, menelusuri sungai, cano dan lainnya), serta unsur perilaku yang berkaitan dengan aktivitas alam bebas

Dalam pelaksanaanya pendidikan jasmani dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sebagai contoh ; 1) Tahap Persiapan, yang mencakup langkah-langkah persiapan, seperti: Penetapan tujuan pembelajaran, Memilih metode pembelajaran, Memilih materi pembelajaran, Menentukan alokasi waktu, Menentukan alat dan sumber bahan pelajaran, Memilih jenis evaluasi, dan lain-lain; 2) Tahap Pelaksanaan, tahap pelaksanaan pada dasarnya menerapkan apa yang telah dilakukan pada tahap persiapan; 3) Tahap Evaluasi, yang meliputi : Mengumpulkan informasi tentang pencapaian kompetensi, tujuan evaluasi adalah menilai sejauh mana siswa mampu mencapai kompetensi hasil belajar dan Memberikan umpan balik terhadap jalannya pembelajaran (Kurikulum 2004 : 20).

Pembelajaran Terpadu Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar

Banyak kemungkinan untuk menghubungkan pendidikan jasmani dengan subjek materi yang lain, terutama untuk kelas awal seperti keterpaduan dengan arimatika, bahasa, pendidikan alam terbuka, pendidikan sosial, dan sebagainya. Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004 memberikan suatu kesempatan pada guru untuk menyusun rencana pembelajaran yang sesuai dengan keadaan siswa dan sekolah. Kurikulum ini juga membantu para guru untuk mengkolaborasikan mata pelajaran pendidikan jasmani dengan mata pelajaran lain yang materinya relevan dan dapat di aktualisasikan pada suatu pembelajaran terpadu yang memungkinkan untuk dapat mengembangkan aspek-aspek yang ada dalam diri siswa sesuai dengan standar kompetensinya. Seperti yang tercantum dalam Rambu-rambu Kurikulum 2004 yang menyebukan bahwa dalam menyusun kegiatan pembelajaran, guru dapat menggabung beberapa kompetensi dasar dalam beberapa akativitas, dan juga dapat menggambungkan hasil belajar dan indikator dalam satu kegiatan pembelajaran.

Materi-materi pembelajaran pendidikan jasmani yang terdapat pada kuikulum 2004 sekolah dasar yang terdiri atas : Permainan dan olahraga, Aktivitas Pengembangan, Uji diri/senam, Aktivitas Air (akuatik), Aktivitas Ritmik, Pendidikan Luar Kelas (outdoor Education), dapat dipadukan dengan tingkat relevannya materi-materi tersebut satu sama lain.


Gambar 1. Pembelajaran Terpadu Pendidikan Jasmani Model 1

Pembelajaran terpadu pendidikan jasmani dapat mencakup dua atau lebih materi yang dilibatkan dan dilaksanakan pada satu materi pembelajaran pendidikan jasmani tersebut. Sebagai contoh, dalam pembelajaran permainan dan olahraga kita melibatkan juga materi lain yang terdapat pada aktivitas pengembangan atau uji diri/senam. Contoh lainnya, kita akan melaksanakan pembelajaran aktibvitas air (akuatik) di kolam renang, kita juga melibatkan materi yang lain yang ada dalam permainan dan olahraga, dengan menggunakan bola kecil atau bola besar, dan kita juga dapat melibtakan materi aktivitas pengembangan atau uji diri/senam.

Pembelajaran terpadu pendidikan jasmani dapat juga melibatkan materi-materi yang terdapat dalam mata pelajaran yang lain di sekolah dasar yang didasarkan pada kompetensi dasar, indikator, dan hasil belajar, seperti : Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika, Sains, Pengetahuan Sosial, Kerajinan Tangan dan Kesenian.


Gambar 2. Pembelajaran Terpadu Pendidikan Jasmani Model 2

Materi-materi yang terdapat dalam mata pelajaran-mata pelajaran lain dapat dilibatkan dalam suatu proses pembelajaran pendidikan jasmani yang materinya relevan. Materi yang ada dalam pendidikan jasmani dipilih kemudian dipadukan dengan materi-materi mata pelajaran yang lain. Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004 juga memberikan kesempatan para guru utuk membangun tema pembelajaran yang mencakup beberapa materi pelajaran pada mata pelajaran yang berbeda, model ini lebih disebut dengan Tematik. Sebagai contoh, tema suatu pembelajaran pendidikan jasmani, menghubungkan dengan belajar membaca dan berhitung dasar bagi anak sekolah dasar.

Kesimpulan

Pembelajaran terpadu merupakan suatu inovasi yang dapat dikembangkan oleh para guru sekolah dasar sebagai upaya untuk mencapai tujuan dari pendidikan yaitu manusia utuh. Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa anak-anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada seluruh aspek, sehigga diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat mencakup itu semua. Pendekatan pembelajaran terpadu memungkin untuk terlaksananya pembelajaran yang efektif dan efisien terutama untuk pendidikan jasmani yang selama ini masih dianggap lebih rendah dibanding dengan mata pelajaran yang lain. Memadukan pendidikan jasmani dengan mata pelajaran lain terutama di Sekolah Dasar merupakan suatu usaha untuk mensejajarkan pendidikan jasmani dengan mata pelajaran lainnya.

Pembelajaran terpadu juga akan menambah jam pelajaran pendidikan jasmani yang selama ini dianggap masih kurang. Dua jam pelajaran pendidikan jasmani akan bertambah secara tidak langsung dengan pembelajaran mata pelajaran lain dengan menggunakan pembelajaran pendidikan jasmani yang memang lebih senang untuk dilakukan. Pembelajaran Matematika yang mempunyai jam pelajaran yang banyak dapat menggunakan pendidikan jasmani untuk proses pembelajarannya melalui pembelajaran terpadu tersebut.

Daftar Pustaka

Annarino, Anthony. 1992. A Curicullum : Theory and Design In Physical Education. London. The CV. Mosby Company.

Beane, J.A. 1995. Connecting Mathematics Across The Curicullum. Virginia. National Council of Teachers of Mathematic Inc.

Bucher, C.A. 1960. Foundation of Physical Education. St. Louis. C.V. Mosby Company.

Setiawan, Caly & Nopembri, Soni. 2004. Teaching Games for Understanding (TGfU) (Konsep dan Implikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani). Jurnal Nasional Pendidikan Jasmani dan Ilmu Kelohragaan. Volume 3 Nomor 2 Agustus 2004. Jakarta : Depdiknas. Ditjora.

Depdiknas.2004. Model Pembelajaran Terpadu. Artikel. Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas.

Gallahue, L., David. 1989. Motor Development. Indianapolis. Indiana : Benchmarks Press, Inc.

Ihat Hatimah. 2003. Strategi dan Metode Pembelajaran. Bandung. CV. Andira.

Kasina Ahmad.2003. Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Bahasa Indonesia Di Kelas Iii Sekolah Dasar. Jurnal Teknologi Pendidikan Edisi No. 12/VII/Oktober/2003. Pusat Teknologi Komunikasi Dan Informasi Pendidikan Depdiknas.

Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Ngalim Purwanto. 1991. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Nina Sutresna, dkk. 2003. Model Pembelajaran Terpadu (Integrated Learning) Penjas di Sekolah Taman Kanak-Kanak. Proposal Penelitian Tindakan Kelas. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Universitas Pendidikan Indonesia.

Rusli Lutan. 1994. The Victorian Primary School System and Possible Application In The Indonesian Setting. Melbourne, Victoria.

Siswoyo. 2004. Pembelajaran SD Cenderung Eksklusif. Suara Merdeka, Kamis, 06 Mei 2004.

Wiryawan, Sri Anitah. Pembelajaran Terpadu Hilang Gaungnya Pikiran Rakyat, 11 April 2003.

Sukintaka. 1990. Teori Bermain. Yogyakarta. Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Institut Keguruan Ilmu Pendidikan Yogyakarta.

Saud, Udin. 1996. Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar : Konsep Dasar dan Model-Model Implementasinya. Bandung.

………….. 1997. Pembelajaran Terpadu : Inovasi untuk Membelajarkan Anak agar Menjadi Manusia ‘Utuh’ Yang Kreatif dan Inovatif. Makalah. Bandung.

Yacobs, H.H. 1989. Interdiciplinary Curricullum : Design and Implementation. Alexandria. VA ASCD.